Saya mengenal beliau sudah sejak lama gitar 5 tahun yang lalu saat saya masih baru pindah ke Sidoarjo. Saya mengenal video karena sesama jamaah di masjid Nidaul Fithrah.
Beliau memiliki nama asli Eko Yulianto. Kelahiran asli Jawa Tengah 43 tahun yang lalu yang saat ini tinggal di Sidoarjo Jawa Timur.
Namun karena saking kuatnya brand image yang beliau bangun yakni LGR, di mana-mana beliau dikenal dengan nama Pak Eko LGR Los Gak Rewel, bukan Eko Yulianto.
Saya mengenal beliau sudah sejak lama sekitar 5 tahun yang lalu saat saya masih baru pindah ke Sidoarjo. Saya mengenal beliau karena sesama jamaah di masjid Nidaul Fithrah.
Latar Belakang LGR
Beliau membangun merek LGR tentunya berangkat dari semangat ajakan kepada semua orang untuk tetap semangat dalam menjalani kehidupan ini. Konsep Los Gak Rewel ini djadikan sebagai jiwa pada merek jualan beliau (dengan nama yang sama yakni LGR).
Los Gak Rewel memiliki makna yang dalam, yakni kekuatan semangat jiwa kita untuk tidak mudah mengeluh, pantang menyerah, dan tetap struggle menjalani hidup dengan rilex dan bahagia apapun keadaannya tanpa perlu kebanyakan drama.
Jadi kemana-mana dalam mempromosikan produk aparel ini Pak Eko selalu membranding diri dan usahanya dengan prinsip LGR, Los Gak Rewel.
Histori Bisnis Pak Eko di Bracket TV
Beliau dulu secara history sama seperti kebanyakan kita yakni berangkat dari karyawan. Beliau pernah bercerita ke saya setidaknya sudah lebih dari 14 tahun bekerja ke orang. Beliau akhirnya resign karena saking inginnya memiliki usaha sendiri.
Maklum karena pada dasarnya Beliau juga keturunan pebisnis. Orang tua beliau dikenal di kota kelahirannya sana sebagai bisnis kerupuk yang cukup maju. Tentu jiwa pebisnis menurun ke beliau nya dari orang tua.
Beliau dulu bekerja di bidang sales yakni produk bracket TV. Sehingga ketika beliau keluar dari perusahaan tempat beliau bekerja akhirnya produk dan layanan yang dikembangkan pun juga sama, yakni bracket TV dan turunannya.
Berbekal pengalaman dan data yang dimiliki berupa toko-toko dan dan agen bracket TV di seluruh Jawa dan Bali, Pak Eko memberanikan diri untuk bisnis sendiri menjual bracket TV ke agen-agen tersebut.
Dikarenakan Pak Eko bekerja sendirian tanpa karyawan sehingga cost yang menjadi beban jadi jauh lebih ringan sehingga Pak Eko berhasil menekan biaya lebih murah dari kompetitor. Akibatnya Pak Eko berhasil mendapatkan kepercayaan dari para agen yang datanya telah dimiliki sebelumnya tersebut.
Awal mulanya Pak Eko bermodalkan suntikan dana dari salah seorang teman masjid Nidaul Fithrah sebesar 30 juta rupiah untuk kulakan bracket. Seiring berjalannya waktu karena usaha terus berkembang akhirnya berhasil mengelola uang investor sampai dengan Rp. 400 juta pada akhirnya.
Yang lebih menggembirakan lagi adalah karena keuletannya, Pak Eko berhasil mendapatkan kepercayaan dari pabrik. Padahal mendapatkan kepercayaan dari pabrik itu tidaklah mudah. Satu yang pasti modalnya adalah harus bisa dipercaya oleh pabrik (menjadi orang yang amanah) .
Sampai dengan saat ini pabrik yang mensuplai Pak Eko telah mendudukkan Pak Eko pada posisi yang nyaris tidak bisa digoyang karena saking kuatnya. Sang pemilik pabrik sudah mengatakan anggaplah pabrik seperti pabrik sendiri.
Kedudukan yang besar ini tentu saja tidak didapatkan dengan mudah, ada nilai perjuangan yang cukup panjang untuk mendapatkannya.
Usaha Apparel
Ketika bisnis bracket TV dirasa sudah cukup stabil, sekitar 3 tahun yang lalu Pak Eko memulai bisnis baru dengan konsep yang hampir sama, yakni bisnis apparel. Sebagaimana di awal telah saya sebutkan, bahwa bisnis apparel ini menggunakan brand LGR.
Di bisnis Apparel ini Pak Eko sama sekali tidak produksi sendiri, tetapi hanya makloon-makloon saja. Jadi pada prinsipnya Pak Eko ambil barang ke pengrajin dalam jumlah tertentu kemudian dijual kembali.
Selama 3 tahun berbisnis dari awalnya hanya 2 supplier, saat ini supplier Pak Eko telah berkembang menjadi lebih dari 8 supplier dengan lebih dari 30 jenis produk apparel yang berbeda-beda.

Ilmu Bisnis Pre Order
Perlu ditegaskan bahwa di sistem yang dikembangkan pak Eko ini juga tidak murni sistem jual lepas juga lho. Terutama ketika di awal karena masih belum memiliki modal yang cukup, sistemnya dimodifikasi menjadi sistem pre order.
Pak Eko cukup berbisnis dengan cara pre order dulu. Setelah mendapatkan order dari customer maka dipesankan ke pengrajin atau produsen. Biasanya partai besar lah yang banyak menghasilkan profit sehingga cashflow nya jadi mudah untuk diputar.
Konsepnya memang seperti itu di mana mengedepankan pre order.
Namun bagi pengusaha pemula jangan dikira hal itu mudah. Untuk mendapatkan pre order tentunya dibutuhkan kepercayaan.
Orang harus percaya kepada kita dulu untuk mau menitipkan uangnya dalam mendapatkan barang tertentu.
Tidak bisa serta-merta orang yang belum dikenal langsung mau beli apa lagi barangnya belum ready.
Kita harus terkenal dulu agar menumbuhkan kepercayaan orang. Selain tentu saja yang terpenting adalah kejujuran dan profesionalisme pelayanan yang harus kita kedepankan. Karena sekali kita meleset dalam memberikan janji maka nama baik kita yang akan jatuh dan susah untuk mendapatkan kepercayaan order berikutnya.
Jadi sekali lagi bahwa kejujuran dan profesionalisme layanan kita harus senantiasa dikedepankan.
Saya mendapatkan banyak sekali ilmu dalam berbisnis karena sering ngopi bareng dengan Pak Eko. Dari ngopi kita bisa mendapatkan sesuatu hal-hal baru dari teman ngopi kita.
Sebaiknya dalam ngopi carilah partner ngopi yang memang memiliki visi yang baik. Jangan dari partner ngopi asal apalagi yang sama-sama belum sukses. Nanti pada akhirnya ya tetap saja mblekuthek di sekitar situ saja cara berpikirnya.
Branding yang kuat
Branding adalah apa yang dipersepsikan orang terhadap produk atau bisnis kita. Dengan teknik branding kita akan lebih mudah mendapatkan customer daripada hard selling.
Jika zaman dulu kita mengenal bahwa menjual adalah dengan door to door menawarkan dari pintu ke pintu, maka saat ini sudah tidak terlalu relevan gaya marketing seperti itu. Kecuali mungkin pada produk B to B yang bernilai besar.
Kegiatan marketing pintu ke pintu dirasa sudah tidak terlalu efektif saat ini selain tentunya karena perasaan psikologis minder dan malu yang terlalu mendominasi, juga dimana orang sudah bisa mendapatkan informasi lebih banyak melalui media (internet).
Saat ini sudah zamannya branding di mana produk dan layanan kita, kita jadikan konten lalu kita share di media-media sosial maupun website kita. (Ilmunya dipelajari di Syabab Camp)
Nanti ketika audiens para pengguna sosial media dan internet menemukan ulasan konten dari produk kita maka harapannya orang atau klien tertarik untuk menghubungi kita dan membeli produk kita.
Tentunya Ketika seseorang menghubungi kita terlebih dahulu, hal itu jauh lebih mudah untuk sampai terjadinya closing daripada kita yang mengejar mereka. Inilah salah satu prinsip dasar dari ilmu branding.
Ibaratnya customer yang menghubungi kita Itu sudah merupakan customer hot. Bukan lagi customer cold yang harus kita yakinkan dan edukasi dulu agar dia paham produk kita dan akhirnya membeli.
Merubah cold customer menjadi hot customer itu diperlukan step-by-step tahapan yang lebih rumit dan lebih panjang sehingga memakan energi yang jauh lebih besar. Maka para ahli marketing saat ini menyarankan lebih ke sistem branding saja atau pull (bukan push).
Channel Facebook
Pak Eko menggunakan Facebook sebagai kendaraannya dalam berjualan. Dari sekian banyak pilihan Facebook dirasa paling mudah untuk menciptakan engagement dengan audience.
Pak Eko tidak menggunakan fitur-fitur premium untuk Facebook ini. Pak Eko hanya cukup menggunakan fitur gratis berupa status profil pribadi. Nama yang digunakan pun juga nama pribadi.
Namun justru dari penggunaan profil dan nama pribadi asli tersebut malah lebih kuat dalam menciptakan engagement dengan audience. Audiensi menjadi jauh lebih dekat dan senang dengan interaksi yang diciptakan pada status dan komen di beranda Pak Eko.
Saat ini ini Pak Eko sedang memasuki fase untuk menuju automatisasi bisnisnya. Dimana yang dimaksud adalah Pak Eko mulai sedikit demi sedikit melepas ketergantungan bisnis pada dirinya pribadi dan mendelegasikan ke tim.
Yang membangggakan bagi saya selaku perintis Syabab Camp adalah bahwa salah satu tim Pak Eko adalah merupakan alumni dari Syabab Camp.
Anaknya mendapatkan pekerjaan untuk mengelola dan mengupdate konten-konten yang ada di website sekaligus Posting ke grup WhatsApp LGR Community yang beranggotakan saat ini lebih dari 80 orang.
Pak Eko dan Bantuannya ke Syabab Camp
Pada prinsipnya Pak Eko sangat membuka diri dengan siapapun untuk bekerja sama. Saat ini Pak Eko sedang mengembangkan reseller atau agen sebesar-besarnya untuk produk-produk aparel LGR.
Bantuan Pak Eko untuk Syabab Camp rasanya sudah tidak dapat dihitung. Saya pribadi Sudah beberapa kali diajak oleh Pak Eko untuk keliling ke klien-klien bisnisnya.
Saya pernah diajak ke salah satu teman bisnis Pak Eko yang memiliki omset diatas 10 milyar dalam 1 bulan. Bisnisnya hanya dari rumah, yakni berjualan di di Amerika secara online.
Orang seperti beliau-beliau ini akan sangat besar manfaatnya jika bisa mengajari kita bisnis. Syabab Camp sedang berupaya mengajak para pengusaha sukses untuk bergerak bersama memajukan para pemuda kita.
Selain itu Pak Eko juga sering sekali memberikan bantuan untuk saya dan Syabab Camp. Terakhir, bulan yang lalu Pak Eko lah yang membantu saya membayar tagihan listrik dan internet Syabab Camp.
Semoga maju terus bisnis Pak Eko dan terus dukung Syabab Camp untuk Masa depan anak-anak kita yang lebih baik.
Untuk kontak langsung dengan Syabab Camp silakan klik nomor whatsApp yang ada di bawah ini. Kita bisa berdiskusi untuk skema kerjasama terbaik.
0895-3536-98866